Tentang Pria Idaman

(Foto diambil dari google)
Jodoh adalah sesuatu yang tidak bisa ditebak, kapan ia datang, dan bagaimana sosoknya. Jodoh adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh tuhan bahkan sebelum manusia dilahirkan.
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  [QS. Adz Dzariyaat (51):49].
Kata mereka “tidak ada salahnya dalam menentukan kriteria pria idaman agar bisa menjadi doa”. Saya masih bingung dengan statement itu, antara setuju dan tidak setuju. Setuju karena betul memang setidaknya kita bisa berdoa, agar tuhan mengirimkan pria yang setidaknya sesuai dengan selera kita atau berharap tuhan akan merubahnya menjadi sosok yang sesuai dengan selera kita. Tapi yang namanya manusia ekspektasi nya itu sungguh tinggi, saya pun begitu. Sehingga ketika telah dihadapi dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, perasaan kecewa akan terus menghampiri. Nah inilah yang sangat saya khawatirkan.
Semenjak menginjak bangku kuliah, pembicaraan antar teman sudah mulai mengarah kepada pernikahan. Dan semenjak itulah saya mulai memikirkan tentang pria idaman. Namun sayangnya saya tidak pernah benar-benar mencapai titik poin yang saya harapkan. Ibarat menggambar, saya hanya bisa menyelesaikan setengah lembar kertas untuk menggambarnya lalu kemudian menghapusnya kembali dan begitu seterusnya saya mencoba,  saya tidak pernah bisa menyelesaikannya. Begitulah tentang pria idaman yang saya pikiran, saya tidak pernah berhasil menyelesaikan dalam berpikir tentang pria idaman.
Bukan, bukan karena saya malas memikirkannya. Tapi karena saya terhambat oleh pemikiran saya “bagaimana jika jodoh saya tidak sesuai dengan harapan, nantinya pasti akan kecewa, ah sudahlah”, begitulah yang selalu terjadi. Saya khawatir bahwa saya terlalu tinggi dalam berekspektasi pria idaman, saya tidak ingin kecewa dikemudian hari karena toh jodoh telah ditentukan tuhan. Saya tidak ingin terlalu menentukan kriteria pria idaman yang nantinya malah akan menjadi angan-angan.
Semakin kesini, saya semakin sadar bahwa jodoh itu berbanding lurus dengan diri sendiri, seperti firman Allah dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”-(An-Nur: 26). Dari situ saya mengerti bahwa jodoh itu sebenarnya refleksi dari diri sendiri, apabila kita baik, insyaallah kita akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Saya pun mulai memikirkan bahwa untuk mendapatkan laki-laki yang baik, itu artinya saya harus menjadi perempuan yang baik. Sekarang yang perlu saya lakukan adalah memperbaiki diri menjadi lebih baik. Saya sadar bahwa saya masih memiliki banyak kekurangan dan itulah yang harus saya perbaiki.
Menurut saya berekspektasi itu boleh, menentukan kriteria pria idaman itu boleh selama dibarengi dengan  perbenahan diri agar pantas dipilih oleh lelaki yang baik. Kalaupun seandainya jodoh kita tidak sesuai dengan yang diharapkan, we have nothing to lose, at least kita telah memperbaiki diri kita. Manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan pria, pasti ada kekurangannya juga. Bukankah kita diciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi?
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s