The philosophy of Chinese Bamboo Tree (Menjadi pribadi yang pendiam)

 Ada 3 pusaka kebajikan,yaitu
merahasiakan keluhan,merahasiakan
musibah, dan merahasiakan sedekah (HR
Tabrani)
(Foto diambil dari google)
“Chinese bamboo is quite unique on its own. When this bamboo is planted, watered, and nurtured for the whole growing season, it does not outwardly develop even just for an inch. Then, on the next growing season, the farmer must continue to irrigate, fertilize and care for the bamboo tree and yet nothing happens – it fails to sprout just the same.
And as the seasons go in and out, the farmer has to continue caring for the bamboo for four consecutive years. What could really be discouraging is the farmer has nothing substantial to demonstrate for all of his labor in caring and growing the tree. Four lonely years of hard work and caring and yet you have nothing!
And then on the fifth year, that Chinese bamboo tree seed at last grows and not just growing as we normally see with other plants. The bamboo tree shoots up to more than 80 feet all in just one growing season”.
Ada baiknya jika kita hidup seperti pohon bambu Cina. Ia tidak menampakkan dirinya bahwa ia sedang dalam proses perkembangan, berkembang untuk menjadi akar yang mampu menopang bambu hingga ketinggian 90 meter.
Dalam hidup, seringkali kita merasa sedikit sombong dengan apa yang kita kerjakan padahal itu baru proses yang belum terlihat hasilnya. Seringkali kita juga menampakkan emosi serta perasaan dalam menjalani suatu hal. Padahal dengan hal yang seperti itulah yang dapat menghancurkan perasaan kita. Jika diibaratkan, kita sedang merencanakan membangun sebuah rumah yang kemudian telah selesai 35% lalu kemudian kita mengajak kerabat kita untuk berkunjung kerumah tersebut. Apakah kita akan mendapat tanggapan yang positif? Tentu tidak semua. Dari semua tanggapan yang kita terima, pasti kita akan memikirkan tanggapan-tanggapan negatif. Lalu kita akan terlarut untuk memikirkannya. Merubah apa yang dikata mereka tidak pantas. Hingga akhirnya rumah itu bukanlah rumah yang telah kita rancang sebelumnya, melainkan rumah hasil buah pikir orang lain. Jika telah seperti itu, bahagiakah kita dengan pencapaian itu?
Oleh sebab itu, didalam hidup, jadilah seperti bambu Cina yang tak menampakkan bahwa kita sedang  menjalani suatu proses. Biarkan hasil yang berbicara, baik atau buruknya tanggapan orang lain, setidaknya kita telah berada di titik puncak pencapaian. Hadapilah segala rintangan dengan cara kita sendiri agar mampu menjadi pribadi yang kuat. Berusahalah semampumu, lalu kemudian tingkatkan usaha mu sedikit demi sedikit. Cukuplah Allah sebagai tempat mengadu, cukuplah shalat sebagai penguat hati yang mulai lemah dan berdoalah untuk mendapatkan titik terang dalam mencapai impian. Hingga nanti ketika kita telah berhasil mencapai apa yang kita impikan, mereka yang akan bertanya “apa yang telah kau lakukan selama ini hingga kamu seperti ini?” 🙂
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s