Penelitian terhadap Orang Menginang, Sebuah Refleksi


Saya adalah mahasiswa kedokteran gigi di salah satu Universitas Negeri di Kalimantan Selatan. Untuk mendapatkan gelar sarjana maka saya harus melakukan penelitian. Atas pertimbangan dan arahan dari dosen pembimbing, akhirnya penelitian saya diputuskan menggunakan sampel orang menginang di Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin.
Menginang merupakan kebiasaan mengunyah sirih beserta gambir, pinang, kapur, serta tembakau yang saat ini sudah sangat jarang dilakukan oleh masyarakat. Sehingga kebanyakan mereka yang masih menginang adalah orang yang sudah tua. Keberadaan mereka pun di pedesaan paling dalam sehingga perlu perjalanan yang sangat panjang dari ibu kota.
Dalam penelitian ini, saya banyak mendapat pelajaran yang berharga. Salah satunya tentang menghargai keberadaan orang tua. Mereka yang menginang adalah wanita yang sudah berusia diatas 60 tahun dan kebanyakan dari mereka hidup sebatang kara. Kebanyakan dari mereka ditinggal oleh sang anak yang telah berkeluarga dan pergi merantau.
Ada salah satu orang menginang, usianya mungkin sekitar 90 tahun. Kondisi beliau sudah kesulitan dalam beraktivias, namun beliau tinggal sendiri. Ketika saya dan kawan-kawan mendatangi beliau, beliau sedang menjemur pakaian dengan kesulitan. Perihhhh… Anak beliau sudah berkeluarga dan tinggal beberapa kilometer dari rumah beliau. Sang anak hanya datang sekali-sekali untuk memberi makanan, itu pun beliau sendiri yang terkadang harus memasak. Menyedihkan bukan, diusia beliau yang sudah sangat tua, kesulitan dalam beraktivitas, sang anak malah membiarkan orang tua itu tinggal sendirian.
Ada lagi orang menginang dengan usia sekitar 90 tahun. Beliau benar-benar hidup sebatang kara, anak beliau sudah berkeluarga dan pergi jauh, suami beliau sudah tiada. Waktu kami menemui beliau, beliau sedang duduk di warung tetangga. Kondisi beliau memang sedikit lebih kuat sehingga mampu berjalan kemana-kemana. Namun menyaksikan fakta bahwa beliau hidup sebatang kara, isn’t your heart hurt?
Di sini saya merenung. Seorang ibu yang telah melahirkan anaknya, membesarkan serta merawatnya dengan penuh perjuangan mulai dari sang anak tidak mampu berbuat apa-apa  sampai akhirnya tumbuh dewasa, pada akhirnya sang anak tidak mampu memperjuangkan untuk mengasuh ibu nya yang sudah tidak bisa apa-apa. Sekejam itu kah dunia terhadap seorang ibu, sekejam itu kah dunia menuntuk banyak hal kepada manusia hingga ia tak mampu mengurus ibunya sendiri. Ya Allah semoga engkau selalu memuliakan para ibu.
Menyedihkan menyaksikan fakta itu. Saya mengingat-ngingat, bagaimana perjuangan ibu saya dalam membesarkan adik saya mulai dari lahir. Bagaimana ibu mengasuh, merawat, tidak tidur semalaman karna sang adik yang rewel. Pastinya hal itu juga terjadi oleh seluruh ibu dalam membesarkan anaknya. Hingga akhirnya sang anak tumbuh dewasa, menjadi anak yang dibanggakan oleh ibunya. Namun nampaknya semakin dewasa sang anak, semakin besar pula lah hatinya hingga merasa bahwa segala pencapaiannya atas perjuangannya sendiri, tanpa menyadari bahwa sang Ibu lah dibalik segala kesuksesannya. Semoga kita bukan tergolong orang yang seperti ini.
Dari penelitian kali ini, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk akan selalu merawat ibu saya. I promise, mother. I promise. All my love will always for you ❤ :’’)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s