Mengembalikan Budaya Sungai, Demi Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Banjar

Kalimantan Selatan (Kal-Sel) merupakan sebuah provinsi di Indonesia dengan ibu kota Banjarmasin. Kota Banjarmasin dikenal dengan istilah kota seribu sungai. Hal itu disebabkan karena kondisi lingkungan kota Banjarmasin yang secara geografis merupakan daerah rawa pasang surut dengan ketinggian 0,16 m dibawah permukaan laut serta dibelah oleh 2 sungai besar dan dialiri oleh banyak anak sungai (BPS Banjarmasin, 2012). Dengan Kondisi lingkungan yang seperti itu membuat sungai sebagai pusat kegiatan dan kehidupan masyarakat Banjarmasin. Segala aktivitas transportasi ataupun perdagangan dilakukan di sungai dengan media berupa jukung. Pemusatan penduduk di kota Banjarmasin pun berada di tepi sungai. Oleh sebab itu budaya banjar juga di sebut sebagai budaya sungai.

Pada jaman dahulu, masyarakat Banjar masih memiliki rasa cinta terhadap sungai. Hal itu dapat dilihat dari cara warga membangun rumah di tepi sungai. Mereka membangunnya dengan desain bagian depan rumah menghadap sungai dan bagian belakang menghadap ke darat serta pembuangan akhir tinja berada didarat bukan di sungai sehingga kebersihan lingkungan sungai terjaga.

Dengan adanya modernisasi telah merubah pola pikir serta tingkah laku masyarakat Banjar. Satu persatu budaya banjar semakin luntur termasuk budaya sungai. Masyarakat tidak lagi menilai sungai sebagai warisan budaya nenek moyang meski mereka tidak dapat lepas dari sungai untuk memenuhi aktivitas hidup mereka. Rumah yang mereka bangun di tepi sungai sekarang sudah tidak lagi mementingkan kebersihan lingkungan. Mereka membangun rumah dengan membelakangi sungai serta pembuangan akhir tinja yang langsung ke sungai. Bahkan, tempat khusus Buang Air Besar (BAB) di bangun di tepi sungai atau istilah dalam bahasa banjar disebut jamban. Kampung-kampung kecil yang terbentuk di tepi sungai sudah tidak lagi tersusun rapi, melainkan berantakan dan tidak terkendali. Sehingga tidak heran jika menurut data Dinas Kimprasko Banjarmasin menunjukkan pada tahun 1997 sungai di Banjarmasin terdapat 117 sungai dan berkurang menjadi 60 sungai pada tahun 2004.

jamban-apung-di-tapin
Gambar diambil dari sini

Sungai di Banjarmasin sekarang semakin sedikit serta tercemar oleh berbagai hasil aktivitas manusia. Jika diperhatikan, kita bisa menemui sampah-sampah atau bahkan tinja yang menggenang di sungai. Kondisi air sungai yang tercemar dapat menjadi awal timbulnya masalah kesehatan. Pasalnya air sungai tersebut banyak digunakan oleh sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terutama masyarakat yang berada di pedalaman. Menurut data laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2007, sebanyak 51,7% rumah tangga di Kabupaten Barito Kuala yang menggunakan air sungai sebagi sumber air bersih.

1300478702406100116
jamban
aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzAzMzg5MTExX1NrUVFoWkNwLmpwZw==
Gambar diatas menampilkan beberapa aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Banjar.
Gambar diambil dari sini, sini, dan sini

 

Dalam ilmu kedokteran, ada istilah yang disebut dengan waterborne disease. Waterborne disease merupakan penyakit yang muncul akibat adanya penyebaran melalui air. Hal itu terjadi apabila air yang digunakan mengandung mikroorganisme berupa virus, bakteri atau jamur. Beberapa penyakit tersebut diantaranya adalah diare dan tifoid. Penyakit tersebut merupakan penyakit yang banyak dijumpai di Kalsel. Berdasarkan data laporan hasil Riskesdas Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2007 terdapat enam kabupaten/kota dengan persentase diare diatas 10% yaitu Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, Balangan, Tapin, Banjar, dan Hulu Sungai Utara.

Berdasarkan hal tersebut, demi memperbaiki kesehatan masyarakat Banjarmasin maka salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki kualitas lingkungan hidup kota Banjarmasin salah satunya kualitas air sungai. Dalam melakukan perbaikan kualitas air sungai, penting untuk mengetahui penyebab menurunnya kualitas air sungai. Berdasarkan pengamatan penulis, beberapa penyebab menurunnya kualitas air sungai diantaranya adalah:

  1. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan sungai semakin rendah bahkan hampir tidak ada. Hal tersebut dibuktikan dengan mereka yang sudah terbiasa membuang sampah di sungai-sungai kecil di pinggir kota.
  2. Limbah industri yang berujung pada sungai-sungai di Kota Banjarmasin tanpa memperhatikan kemampuan sungai dalam melakukan pembersihan secara alami atau self purification.
  3. Peran Pemerintah dalam melestarikan budaya sungai masih kurang. Penulis beranggapan seperti itu karena sampai saat ini masih banyak pemukiman yang berantakan di tepi sungai serta jamban-jamban yang masih banyak ditemui di tepi sungai kota Banjarmasin.

Perbaikan kualitas air sungai di Banjarmasin memang rumit serta memerlukan kerjasama antara berbagai pihak diantaranya dari pihak Pemerintah dan masyarakat Banjarmasin. Dalam hal ini upaya yang dapat dilakukan dari pihak masyarakat salah satunya adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melestarikan kebersihan air sungai. Edukasi tersebut dapat diberikan kepada anak-anak di Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar dengan media semenarik mungkin. Media tersebut dapat berupa animasi bergerak (video) yang ditampilkan melalui LCD didalam suatu ruangan. Media tersebut menampilkan ajakan untuk tidak membuang sampah di sungai serta akibat yang ditimbulkan apabila mereka membuang sampah di sungai. Nantinya diakhir acara tersebut, anak-anak diajak untuk membuang sampah-sampah yang berserakan ke dalam tempat sampah. Hal tersebut dilakukan mengingat usia mereka yang masih muda sehingga mereka lebih mudah untuk menerima suatu ajakan terlebih apabila dilakukan secara bersama teman-teman. Pemberian edukasi pada anak-anak penting dilakukan karena mereka adalah calon penerus bangsa, dengan harapan kedepannya mereka mampu menjadi manusia yang bisa memperbaiki keadaan di Indonesia, atau minimal mereka tidak melakukan kerusakan-kerusakan di Indonesia.

Dari pihak Pemerintah kota Banjarmasin, upaya yang dapat dilakukan untuk perbaikan air sungai di Banjarmasin diantaranya adalah melakukan penataan terhadap pemukiman penduduk di tepi sungai yang sudah berantakan, serta memberikan penegasan kepada masyarakat yang mencemari lingkungan untuk dikenai hukuman termasuk industri-industri yang melakukan pembuangan limbah di sungai Banjarmasin. Selain itu pemerintah juga dapat memfasilitasi universitas-universitas di Kalsel dengan dana atau teknologi terbaru agar para mahasiswa mampu berkembang dengan melakukan berbagai riset. Hal itu dilakukan karena mahasiswa merupakan agent of change yang keberadaannya diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan di sekitar. Penulis memiliki harapan bahwa budaya sungai dapat kembali bangkit di Banjarmasin karena itu merupakan ciri khas kota Banjarmasin dengan slogan ‘Kota Seribu Sungai’ yang sudah mendunia. Semoga suatu saat nanti sungai-sungai di Kota Banjarmasin mampu menjadi objek wisata dengan kualitas air sungai yang bersih dan nyaman di pandang seperti kota-kota di Eropa. Serta, dengan terciptanya kualitas air sungai yang kembali bersih, tentunya dapat menurunkan angka penyakit yang disebabkan oleh air di Banjarmasin.

Referensi :

Badan Pusat Statistik (BPS) Banjarmasin (2011). Keadaan Geografis Kota Banjarmasin 2012.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2013). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2009. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2007. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Tulisan ini disertakan dalam kontes ANUGERAH JURNALISTIK AQUA (AJA) IV
628e24d0b6756573c6c7005ff002e71b_lomba-blog-aqua-aja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s