Hidup di Media Sosial

social-media-management1

Ilustrasi gambar diambil dari sini

Kalau zaman dahulu ada peribahasa “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”, mungkin di zaman sekarang akan lebih tepat peribahasa tersebut saya ganti menjadi “gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan jejak di media sosial”

Hidup di zaman modern seperti saat ini kita benar-benar disuguhkan dengan keindahan dunia, salah satunya teknologi. Teknologi yang saya maksud di sini adalah smartphone. Dulu handphone difungsikan sebagai media untuk berkomunikasi dengan cara sms-an atau telfon-an. Namun sekarang dengan adanya smartphone, fungsi handphone sekarang menjadi multifungsional dengan beragamnya fitur-fitur yang disediakan.

Berbicara tentang smarphone tentu tak lepas dengan media sosial atau medsos yang saat ini menjadi perbincangan paling populer. Media sosial yang saya maksud disini adalah facebook, twitter, path, dan instagram. Jika dilihat dari tujuan, mungkin media sosial ini diciptakan agar lebih mempermudah dalam berkomunikasi pasalnya bisa membagi informasi lebih jelas. Hal itu karena media sosial tersebut dilengkapi dengan kemampuannya yang mampu berkirim foto, tulisan panjang atau bahkan video. Tentunya hal tersebut sangat bermanfaat khususnya bagi mereka yang kesulitan dalam berkomunikasi dikarenakan jarak yang terlampau jauh serta untuk mengupdate berita-berita yang lagi hot topic.

Namun, saat ini masyarakat salah kaprah dalam menggunakan media sosial. Dalam kacamata saya, saya menyaksikan bahwa media sosial kini menjadi tempat untuk meng-ekspos sesuatu yang negatif dan tidak bermakna. Coba kita lihat, berapa banyak kita menyaksikan mereka yang meluapkan emosi dengan kata-kata yang kasar dan kotor atau mereka yang menampilkan foto wajah/tubuh mereka yang membuka aurat?

Hal tersebut membuat saya berpikir, “bagaimana kalau tiba-tiba si pemilik akun tersebut dipanggil tuhan dan menyisakan akun media sosial dengan kata-kata kasarnya atau foto-fotonya yang membuka aurat?”. Padahal pikir saya, perkataan kasar mungkin akan membekas dihati beberapa orang yang mendengarnya, namun jika itu adalah tulisan yang bisa dilihat dan dibaca setiap orang tentu akan banyak orang yang tersakiti bahkan jika sipenulisnya telah tiada.

Saya pun berpikir, kalau dalam agama saya dikenal dengan amal jariah, yaitu pahala yang akan terus mengalir bahkan apabila orang tersebut telah tiada. Lantas, apakah ada pula dengan dosa jariah, pikir saya. Dosa yang akan terus didapat oleh keburukan yang terjadi seperti kata-kata kasar atau foto membuka aurat yang selalu bisa dilihat bahkan ketika orang tersebut telah tiada. Saya memang masih minim pemikiran dalam agama, oleh sebab itu hal tersebut membuat kegundahan dalam diri saya hingga saya memutuskan untuk menutup akun facebook. Saya tidak ingin ketika saya telah tiada, saya akan meninggalkan rekam jejak negatif yang bisa dilihat oleh orang diseluruh dunia. Yaa hal itu karena saya terlalu banyak meng-ekspos hidup saya dulunya dalam facebook.

Saya berpikir bahwa media sosial adalah duplikat dari seseorang yang menggunakannya. Karena disitu kita berbagai informasi tentang diri kita mulai dari nama, tempat tanggal lahir, hobi hingga perasaan-perasaan yang kita luapkan dalam bentuk tulisan. Dengan media sosial sangat mudah bagi saya untuk meluapkan emosi ketika sedang bosan atau marah dengan seseorang, mungkin hal itu juga dirasa oleh para penikmat media sosial lainnya. Belum lagi kini media sosial seperti path yang sepertinya menjadi tempat untuk pamer lokasi dimana kita berada. Pamer kalau kita sedang makan di restoran ternama atau pergi berlibur di kota nan indah. Saya merasa media sosial kini banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya.

Memang sesuatu hal pasti ada negatif dan positifnya. Sisi positif dari media sosial mungkin seperti yang telah saya tulis diatas, untuk lebih memudahkan dalam berbagai informasi. Namun kini, dengan lingkungan yang banyak salah dalam menggunakan media sosial, kita bisa terikut arus dalam menggunakan media sosial. Dan tidak mengikuti perkembangan media sosial pun justru membuat kita ketinggalan zaman padahal sekarang kita dituntut untuk selalu update (update ilmu). Oleh sebab itu, kesadaran dalam diri sendiri lah kunci untuk menyikapi dan menggunakan media sosial. Jangan sampai media sosial yang hanya fana dan maya itu justru menjerumuskan kita pada kehancuran. Semoga langkah-langkah kita selalu dalam tuntunan dan lindungan Allah. Aamiin ya rabbal alamin.

Iklan

2 responses to “Hidup di Media Sosial

  1. Tentang dosa yang akan terus mengalir, saya teringat hadis: “man sanna sunnatan sayyi’atan falahu itsmuha wa itsmu man ‘amila biha”.
    hanya saja namanya bukan dosa jariyah :mrgreen:

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s