Menjadi Tua

6a00d834522bcd69e200e553ff9fcd8834-500wi

Sore itu di sudut ruang kampus, disaat menunggu dosen untuk konsultasi terjadi perbincangan antar aku dan teman ku. Dia berkata “sebentar lagi lulus terus ko-ass terus lanjut lagi kerja dan nikah. Semakin sedikit waktu ku bersama orang tua.” “Aku takut tua” lanjutnya.
“Aku takut tua”. Kata-kata itu terus membayangi ku hingga ku tuliskan tulisan ini. Teman ku sukses membuat ku merenung.

Tua bukanlah hal yang sama dengan dewasa. Menurut ku tua adalah suatu kondisi, raga yang telah mengalami penurunan fungsi, namun dewasa lebih mengarah pada personality kita yang semakin mature dalam menyikapi hidup. Orang yang tua belum tentu mampu dewasa, begitu juga orang yang dewasa tidak bisa kita sebut tua. “Tua” juga menurut orang medis dihubungkan sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Namun, menurutku tua bukanlah hanya tentang sakit, lemah, kelumpuhan atau kulit yang mulai mengeriput melainkan tentang suatu kehilangan akan masa lalu.

Begitulah saat ini aku mendefinisikan tua. Bahwa setiap jarum jam berdetak memindahkan panah nya, kita telah menjadi lebih tua. Semakin banyak panah itu berputar, semakin banyak pula kita meninggalkan moments dan menjadikannya butiran-butiran memori. Seberapapun kita memeluk erat moments tersebut, waktu kan merampasnya dan menyeret kita menuju masa depan tanpa bisa kita elakkan.

Benar apa yang dikata teman ku. Menjadi tua kini menjadi salah satu ketakutan terbesar. Aku kini berada pada posisi yang nyaman. Jika diibaratkan sebagai hutan, aku baru berada pada beberapa kilometer dari pintu masuknya. Namun aku harus terus masuk mencari jalan keluar. Disitulah bayangan akan kesuraman serta rintangan merasuki pikiranku. Aku takut kegagalan dan aku pun tak ingin meninggalkan posisi aman ku ini.

Jikalau bisa memilih, mungkin aku lebih memilih menjadi muda. Namun sayangnya waktu tak dapat tuk dihentikan. Bahkan untuk mem-pause beberapa detik pun tak kan bisa. Harapan untuk terus berada di posisi ini hanyalah sebuah kemustahilan. Tak ada yang bisa dilakukan selain menerimanya. Menerima bahwa “tua” pasti menghampiri. Bahwa menjadi tua pasti akan terjadi.

Mungkin sudah saatnya untuk berbenah diri. Jika menjadi tua itu pasti terjadi, maka persiapan untuk melakukan hal-hal yang terbaik dan menjadikannya memori yang paling berkesan perlu dilakukan. Mungkin penanaman prinsip pada diri sendiri juga perlu, bahwa hidup harus selalu memberikan manfaat serta melakukan yang terbaik di setiap waktu yang kita lalui, agar kita tidak menyesali akan keadaan yang telah di lalui. Agar kita juga mampu menjadi orang yang selalu menjadi lebih baik dan bermanfaat di setiap waktu nya. Biarkan tuhan yang mengatur ending kehidupan kita. Semoga tuhan selalu menuntun kita pada jalan yang benar dan mempertemukan kita pada kebahagiaan dan kesuksesan. Aamiin ya robbal alamin.

Iklan

5 responses to “Menjadi Tua

  1. Saya tersenyum …
    Jangan pernah takut menjadi tua
    Takutlah kalau sudah merasa kehilangan guna …
    so … berbuat sesuatu … apapun itu … asalkan halal dan tetap di jalan NYA
    saya rasa itu akan membuat kita … muda terus … 🙂
    Salam saya
    (8/12 : 25)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s