Langit menangis

rain storm

Beberapa hari lagi tahun kan berganti. Kembang api sudah mulai dijual dimana-mana. Langit pun jua mulai dikotori oleh warna-warni dengan suara yang membisingkan, entah sejak kapan tradisi ini mulai diselenggarakan. Namun malam ini langit sepertinya enggan untuk bersikap ramah, kembang api yang bertaburan di balasnya dengan kilat yang bersahutan, diikuti dengan hembusan angin yang begitu kencangnya, lalu dihempasnya air-air langit.

Kini jalanan perlahan-lahan mulai sunyi, menyisakan barisan mobil yang terus melaju tanpa peduli dengan cuaca. Mereka sang pemilik tangan-tangan jahat tampak masam wajahnya, disimpannya kembali kembang api yang tersisa lalu pergi ketempat persinggahan terdekat, menunggu hujan reda lalu meneruskan kembali pesta kembang api nya.

Langit malam ini serasa murka, dipermainkannya mereka yang gemar mengotori langit. Hujan yang begitu lebatnya tiba-tiba berhenti, membuat mereka kembali menghambur jalanan menyalakan kembali kembang api yang mereka miliki. Tak lama kemudian hujan turun kembali dengan derasnya, mengusir mereka yang tengah bersenang-senang. Perlahan-lahan hujan mulai mereda namun tak berhenti, sesekali ia menderaskannya diikuti dengan tiupan angin yang kencang lalu kemudian reda kembali.

Mereka sang penikmat pesta hanya bisa menggerutu, berbagai makian diucapkan pada langit yang malam ini begitu mengesalkan. Mereka terus menunggu namun hujan tak kunjung berhenti meski ia sudah mulai reda. Hasrat mereka tuk nikmati kembang api begitu besar, tak sedikit dari mereka yang nekat menantang langit dan menyalakan semua kembang api yang dimilikinya.

Langit masih bersikap sabar, tetesan-tetesan air itu sesekali ia deraskan agar mereka pergi. Namun semakin banyak yang kian menantang langit. Langit kembali dipenuhi dengan berbagai warna serta suara yang membisingkan. Langit masih sabar, ia teruskan tetesan-tetesan air tersebut.

Namun sepertinya kesabaran langit kini mulai terkikis. Ia sedih melihat manusia yang tidak sadar dengan sikap mereka yang telah mengotori langit. Kecewa atas sikap manusia yang merampas hak langit untuk dikotori lalu dijadikan tontonan kebahagiaan.

Kini saatnya langit yang berbuat sebaliknya. Ia rampas kekuasaan bumi, ia jadikan air-air dilautan naik kepermukaan, menyapu seisi daratan lalu ia jadikan bumi penuh dengan rintihan orang-orang yang meminta pertolongan pada Sang Kuasa.

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. – QS. Al-A’raf : 56

Iklan

4 responses to “Langit menangis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s