Kagum

Ada seseorang nun jauh disana. Ia begitu luar biasa, ilmunya yang tinggi tak membuatnya tinggi hati. Sikap nya selalu ramah bahkan terhadap teman sejenisnya. Aku kagum padanya bahkan semenjak pertama mengenalnya. Dulu sekali aku dan dia pernah berbincang. Sebuah perbincangan yang hanya sekali dan mungkin baginya tidak penting, namun itulah momen yang selalu ku ingat. Sudah lama semenjak kejadian itu terjadi, mungkin sekarang ia tidak mengenaliku kembali, terlebih banyak nya teman perempuan yang mendekatinya. Tak pernah sebelumnya aku memiliki rasa kagum terhadap seseorang yang begitu dalam, bahkan aku ikhlas mendoakan keselamatannya. Dalam diam aku berharap untuk kembali bisa berbincang dengan nya, meski itu hanya suatu sapaan atau tanya perihal kabar. Namun aku sungguh pemalu untuk menyapanya terlebih dahulu,hingga akhirnya hanya senyum yang mampu ku perlihatkan padanya ketika aku dan dia berpapasan. Dia seseorang yang suka menulis dan itulah salah satu alasan aku mengaguminya. Ia orang yang motivatif, tak jarang tulisannya mampu membuatku merenung dan membangkitan ku dari kesedihan yang kurasa.

Aku bahagia, meski hanya sebatas mengagumi dirinya.

Perasaan wanita mungkin terlampau lunak hingga begitu mudah dicampuri dengan bumbu-bumbu asmara. Namun ia sosok yang begitu menginsiprasi bagi ku. Lewat dirinya aku belajar, bahwa mengagumi seseorang bukan lah memohon agar ia menjadi milikku, melainkan memohon agar diri ini bisa memantaskan diri untuk bisa seperti dirinya atau bahkan lebih baik. Lewat dirinya jua aku belajar untuk ikhlas memohon keselamatan dirinya agar ia selalu dilindungi dalam lindungan Allah.

Aku bahagia dalam keterdiaman perasaan ku terhadapnya

Aku sengaja menyimpan perasaan ini dalam-dalam dan hanya Allah lah yang tahu. Teringat dengan apa yang pernah ia tuliskan bahwasanya kepada Allah-lah tempat kita kembali dan Allah sebaik-baiknya tempat berkeluh kesah. Dan dengan cara ini lah aku selalu ingat dengan Tuhan ketika perasaan ku terhadap nya penuh gejolak.

Dan aku pun ikhlas menjadikan diri ini sebagai pengagum, yang hanya bisa mengagumi dirinya dalam keterdiaman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s