Bulan itu menunggumu

gerhana1

Bulan, seperti namanya yang indah ia adalah sosok dengan paras yang cantik, tatapannya teduh dan hadirnya selalu mampu menentramkan siapa saja yang memandangnya. Bulan adalah sosok yang pemalu, ia lebih memilih hadir ketika hari berganti gelap dan dunia sudah semakin sunyi. Bulan suka menyendiri dalam kegelapan yang selalu menemaninya.

Bulan sangat menyukai kegelapan. Bahkan ketika mentari belum sepenuhnya beranjak meninggalkan bumi, ia sudah hadir untuk menjemput gelapnya malam. Bulan selalu rindu akan hangatnya malam disetiap dekapan yang malam berikan pada bulan. Bulan jua selalu rindu pada malam yang hadirnya selalu mampu menenangkannya dari kicauan-kicauan penduduk bumi. Terlebih saat malam semakin gelap dan waktu semakin bergeser melewati angka 10 ketika penduduk bumi telah beranjak menuju alam mimpinya, disaat itulah waktu yang sangat disukai bulan sebagai penjaga malam.

Malam pernah bertanya pada bulan, mengapa ia begitu menanti malam, mengapa ia begitu bahagia untuk hadir dalam kegelapan. Bulan hanya tersenyum, senyum yang semakin membuatnya terlihat lebih anggun.

“Karena aku rindu Tuhan”, jawab bulan pada malam.

Malam sesungguhnya tak puas dengan jawaban itu, ia bahkan tak mengerti dengan maksud bulan. Namun sebelum malam merangkai kata untuk bertanya, bulan kembali berbicara.

“Kau tahu malam, sesungguhnya dalam diamku, aku selalu memperhatikan gerak-gerik manusia, bahkan ketika mereka terlelap. Ada sekumpulan manusia yang selalu ku tunggu disaat engkau dan aku mulai bergegas meninggalkan bumi”

“Lantas, adakah itu hubungannya dengan Tuhan?”

“Aku selalu menunggu manusia terbangun di sepertiga malam ketika kita mulai beranjak meninggalkan bumi. Aku rindu dengan segala keluh kesah yang mereka utarakan pada tuhan, pinta mereka sangat tulus. Namun tak sedikit dari mereka yang hanya melakukannya sesekali. Aku mengira mereka hanya melakukannya jika sangat dihimpit oleh masalah. Dan disaat seperti itulah aku benar-benar merasakan kehadiran Tuhan turun ke muka bumi. Tidakkah kau merasakannya malam?”

“Mengapa kau ingin sekali bertemu Tuhan”

“Karena aku lelah, aku ingin kembali. Aku iri pada manusia yang hidupnya tidak abadi, bahkan ada sebagian dari mereka yang bisa langsung bertemu Tuhan. Sedangkan kita, kehidupan kita akan berakhir hanya ketika dunia telah kiamat”

Bulan tampak semakin sendu wajahnya, jika ia mampu meneteskan air mata mungkin bumi telah dilanda hujan. Malam membelai hangat rembulan itu, berharap mampu menenangkannya.

“Namun kelelahan ku ini selalu terobati ketika menyaksikan manusia yang terbangun dari tidurnya lalu menghadap Tuhan. Memandang mereka dengan tangan menengadah mengucap segala harap pada Tuhan, dan tak jarang sebagian dari mereka meneteskan air mata, sungguh tak pantas bagiku untuk mengharap dunia ini segera berakhir. Menyaksikan mereka menyadarkanku akan takdir yang telah Tuhan tentukan untukku bahwasanya aku hidup untuk menjadi penerang dalam gelapnya malam. Dan dengan menyaksikan mereka jualah aku merasa Tuhan hadir menyapa seluruh alam semesta”

“Aku akan selalu menunggu, malam. Pada mereka yang selalu bersujud pada Tuhan di sepertiga malam”.

Iklan

4 responses to “Bulan itu menunggumu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s