Bercengkrama bersama Malam

583450-bigthumbnail

Adakah yang lebih tenang dari suasana malam? Ketika kau berkesempatan bercengkrama dengan pikiran tanpa ada yang mengusik, hanya bintang dan bulan lah saksi bisu kegelisahanmu, serta detak jam dinding dan alunan angin sepoi-sepoi yang turut mengikuti pikiranmu berkelana.

Aku selalu menikmati suasana malam, dan malam adalah waktu yang selalu ku tunggu kala raga ku tengah lelah dihempas oleh kesibukan duniawi. Malam adalah simbol ketenangan yang membuatku nyaman untuk melepaskan segala kejenuhan serta nyaman untuk ku merenung.

Kala malam tiba, selepas tugas-tugas telah kukerjakan atau ditengah-tengah kejenuhanku mengerjakan tugas, merenung adalah kegiatan favoritku. Sambil ku buka tirai jendela tepat disamping meja belajarku, pemandangan bintang dan bulan langsung terhampar di permadani angkasa.  Bagiku merenung adalah proses refleksi diri atas apa yang telah kulakukan serta cara untuk mendamaikan diri ku atas rasa benci yang ku pendam. Ada 2 hal yang kerap kali kurenungi yaitu masa lalu yang telah menjadi kenangan, serta masa depan yang masih menjadi tanda tanya.

Merenungi masa lalu bukanlah tentang mengingat indahnya kenangan itu, namun lebih kepada rasa bersalah atas apa yang telah ku lakukan. Sebagai manusia biasa aku pun sering berbuat kesalahan, dan kesalahan itulah yang sering menghantui ku. Aku takut jikalau aku telah menyakiti mereka orang-orang yang kucinta; orang tua serta teman-teman ku. Aku pun sering dibayangi oleh rasa berdosa ku kepada Tuhan, atas nikmat-Nya yang terkadang lupa aku syukuri dan juga rasa bahagia ku yang berlebihan hingga aku melupakan-Nya. Aku tak akan memikirkan kesalahan itu begitu mendalam jika tidak aku renungkan, aku bersyukur memiliki malam yang menjadi tempat nyaman ku untuk merenung. Setidaknya dengan cara ini, aku mampu mengintrospeksi diri ku untuk melakukan hal-hal berikutnya dengan lebih baik.

Begitu juga dengan masa depan, menjadi mahasiswa nyatanya tak semudah yang kupikirkan. Dulu, ketika aku masih sekolah, aku memandang kuliah sebagai simbol kebebasan, bebas memakai pakaian tanpa ada atribut yang mengekang, bebas mengambil keputusan dan tindakan tanpa diawasi oleh guru BP. Namun nyatanya kebebasan itu menuntut ku untuk mandiri, sangat mandiri. Banyak hal-hal yang tak ku mengerti di bangku kuliah, seperti teman yang saling sikut untuk mendapatkan nilai, mencari perhatian dosen, atau segera menyelesaikan tugas tanpa peduli dengan teman yang lain. Kadang aku berpikir, apakah kuliah yang dicari hanyalah sebatas nilai?

Terlebih bagi diriku yang kuliah di jurusan yang kata-kebanyakan-orang-menjanjikan. Hal itu menambah tuntutan yang ku rasa selama menjadi mahasiswa. Aku jadi berpikir dengan gelar yang nantinya kumiliki, apakah aku harus memiliki pekerjaan yang elit? Harus kah aku begitu?. Sejauh ini yang kucari adalah kebahagiaan, bukanlah materi, tak selamanya memiliki segalanya menjadi simbol kebahagiaan, bukan? Jika hidup dalam kesederhaan sudah membuat bahagia, untuk apa mencari lebih jika harus mengorbankan waktu bersama keluarga?. Seperti inilah pemikiran ku sebagai mahasiswa yang kebutuhannya masih dipenuhi oleh orang tua, mungkin aku belum menganggap bahwa materi itu berharga. Aku pun takut sejujurnya, jika semakin bertambahnya usia, aku dibutakan oleh materi.

Beginilah pikiran dan perasaanku bersandiwara kala malam tiba. Memang terkadang aku sedih menyadari masih banyaknya kesalahan yang kuperbuat, pun aku jua terkadang takut memikirkan masa depan. “Mungkinkah kehidupanku akan memiliki ending yang bahagia?”, pikirku. Tapi aku menikmatinya, menikmati setiap sensasi emosi yang kurasa; kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, semua bercampur menjadi satu. Dan yang terpenting adalah setelah aku merenung, aku jadi lebih mengenal diriku lebih dalam, apa tujuan hidup yang kujalani, dan aku pun berusaha untuk memperbaiki setiap kesalahan yang kuperbuat. Semoga Allah selalu menuntunku di jalan yang benar :’)

Gambar dari sini

Iklan

2 responses to “Bercengkrama bersama Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s