Rumah

Colored-pencil-house-drawing

Pernah suatu ketika aku harus pergi menuju suatu kota untuk tinggal. Berjuang tuk menimba ilmu meski harus menahan perihnya kerinduan. Aku rindu rumah.

Pernah jua suatu ketika aku di kampus dan bergegas tuk pulang, namun hujan turun dengan derasnya. Dan ketika hujan telah reda aku segera pergi namun ditengah perjalan pulang hujan turun kembali dengan derasnya, aku pun harus menepi tuk berteduh. Kala itu rasa rindu yang bercampur khawatir terhadap orang rumah menyelimuti perasaanku. Aku ingin segera sampai ke rumah.

Pernah jua suatu ketika pulang ke rumah. Namun kemudian harus kembali lagi menuju suatu kota, lalu mendapati adik yang menangis tak ingin ditinggal. Aku ingin bertahan di rumah.

‘Rumah’ esensinya adalah tempat kemana harus kembali setelah perjalanan panjang yang dilalui. Didalamnya ada kenangan bersama orang-orang yang tercinta; orang tua, saudara, ataupun kekasih. Mungkin jua segala kekuatan, motivasi atau dorongan datangnya dari rumah, seperti yang dikatakan oleh penulis Kurniawan Gunadi “Akan ku buat grafity ‘Everything shall pass’ pada dinding rumah. Kelak kalimat itu akan menjadi kalimat paling baik menurutku untuk menjadi pengingat setiap kali aku membuka pintu rumah”.

Maka dari itu aku sedikit belajar dari ‘rumah’. Mungkin akan sangat indah jika memiliki pasangan yang seperti ‘rumah’. Karena kemanapun nantinya kita akan pergi, kepada dia lah kita kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s