Ramadhan #21: Esensi Kehidupan

Tulisan ini merupakan tulisan 21/30 dari proyek menulis 30 Hari Mencari Berkah Ramadhan bersama Noryunita Rahmah dan Riski Agustin.

tumblr_m6upriWGKk1rt9uwbo1_r1_1280

Beberapa hari yang lalu aku tengah berada dalam sebuah diskusi antara teman-temanku dan juga seorang dokter N. Beliau ini sosok yang inspiratif di mata ku. Perbincangan waktu itu, beliau sedikit menyinggung mengenai suatu  –katakanlah kurikulum– yang masih diperdebatkan oleh para dosen. Ada suatu pernyataan dari beliau yang sampai saat ini masih terngiang dalam benakku.

“sebenarnya saya kurang setuju dengan praktek pembelajaran yang diletakkan diawal sebelum koas. Mahasiswa masih belum cukup sensitif terhadap berbagai permasalahan, dan jika hal itu benar diterapkan, saya yakin mahasiswa tidak akan mendapatkan esensi dari pembelajaran itu sendiri”

—————————————————————————————————-

Pernyataan beliau menjadi refleksi bagi diri saya sendiri. Saya setuju dengan pemikiran beliau, bahwasanya setiap hal ataupun kejadian pasti memiliki esensi yang mana harus kita capai agar kita tidak sia-sia dalam menjalankannya. Mungkin, selama ini saya pun tengah mencari esensi dari kehidupan yang saya jalani, esensi saya sebagai perempuan, esensi profesi yang akan saya tekuni.

Saya sering bertanya-tanya dalam diri saya “untuk apa saya melakukan ini” “pantaskah saya melakukannya” “apakah akan berdampak bagi kehidupan saya”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengawali langkah saya kala ingin mengambil keputusan suatu tindakan, mencari esensinya seperti yang dosenku katakan. Karena hidup pun memiliki esensi yang harus kita capai agar kita bukan termasuk dalam golongan orang yang sia-sia.

Ada satu hal yang masih belum saya pahami esensi dari suatu hal. “Perempuan”. Masih banyak pertanyaan yang belum saya temukan titik terang jawabannya, seperti: “harus menjadi perempuan yang seperti apa nanti setelah lulus, setelah berkeluarga?” “pantaskah jika saya meniti karier setinggi-tingginya, namun risikonya kurang memiliki waktu bersama keluarga? –oh jelas saya tidak ingin menelantarkan anak-anak saya, tapi saya pun tidak ingin menjadi ibu rumah tangga-“. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang saya tanyakan pada diri sendiri dikala tengah merenung. Namun saya yakin bahwa setiap tanya pasti ada jawabnya, tinggal kitanya saja yang mau berusaha untuk mencarinya atau tidak.

Dan semoa segala esensi dari suatu hal mampu kita capai. Agar kita bukan termasuk dalam golongan orang yang sia-sia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s