Ramadhan #22: Urang Pambatangan: Sebuah Makna

Tulisan ini merupakan tulisan 22/30 dari proyek menulis 30 Hari Mencari Berkah Ramadhan bersama Noryunita Rahmah dan Riski Agustin.

rakit

Ada sebuah lagu banjar yang begitu saya senangi. Bisa dikatakan lagu pertama yang membuat saya interest dengan budaya banjar (saya bukan asli orang banjar fyi). Lagu ini berjudul Urang Pambatangan yang diciptakan oleh Anang Ardiansyah. Lagi ini pun sempat dipopulerkan oleh band Radja. Lagu ini nyaman untuk didengarkan, saya rekomendasikan teman-teman untuk mendengarkannya :).

Matan di hulu
Mambawa rakit bagandengan
Bahanyut matan di udik Barito
Awal hari baganti minggu

            Siang dan malam
Waktu hari baganti hari
Istilah urang mancari rajaki
Kada talapas lawan gawi

Panas hujan kada manjadi papantangan
Kada heran tatap dirasaakan
Mananjak batang sambil barami-ramian
Akhirnya sampai katujuan a..a..a..
Inilah nasib manjadi urang pambatangan
Amun nasib sudah ditantuakan
Insya Allah ada harapan

Lagu ini merupakan cerminan masyarakat banjar yang (dulunya) mayoritas sebagai pencari/pengusaha/penebang kayu. Dari lagu ini ada makna yang dapat saya petik yaitu tentang sebuah perjuangan hidup.

Hidup adalah sebuah proses pencarian, pencarian rezeki salah satunya. Tak selamanya pencarian rezeki itu mudah, orang kaya pun ada masanya berada di bawah, dan yang sedang berada di bawah perlu melakukan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti yang tersurat dalam penggalan lagu ini “Siang dan malam, waktu hari baganti hari, istilah urang mancari rajaki, kada talapas lawan gawi” yang  maknanya bahwa perjuangan dalam mencari rezeki adalah bekerja keras sepanjang hari.

Dalam menjalani hidup pun tak selamanya berjalan dengan lancar, ada saja cobaaan atau rintangan dalam melakukannya. Seperti penggalan lagu ini “Panas hujan kada manjadi papantangan, kada heran tatap dirasaakan”. Bahwa meski cuaca yang tak bersahabat terhadap mereka urang pambatangan, mereka tetap bekerja keras dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup tak peduli rintangan yang mereka hadapi.

Dan yang terakhir dari lirik lagu ini “Amun nasib sudah ditantuakan, insya Allah ada harapan”. Meskipun nasib manusia sudah ada yang menentukan, namun insyaallah masih ada harapan untuk merubahnya menjadi lebih baik. Bukankah Allah pun telah menegaskan dalam ayatnya yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (Ar Raad : 11).

Sumber gambar: klik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s