Ramadhan #24: Rendah Hati dan Memaafkan

Tulisan ini merupakan tulisan 24/30 dari proyek menulis 30 Hari Mencari Berkah Ramadhan bersama Noryunita Rahmah dan Riski Agustin.

oryza-sativa-mayano-fruit

Sering kali aku terlibat dalam suatu permasalahan. Entah itu sebagai pendengar curhatan temanku yang tengah dalam perselihan, ataupun aku yang terlibat dalam perselihan. Dalam perselihan pasti ada salah satu atau keduanya yang tidak mau mengalah, maka dari itu perselihan sering kali berujung pada pertengkaran.

Secara pribadi, aku selalu menghindari pertengkaran dengan teman-temanku, meskipun rasa kesal sering menjadi-jadi. Bagiku lebih baik mengalah, daripada harus berdebat dengan orang yang selalu merasa benar dan tidak mau mengalah. Karena menghadapi orang seperti itu tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan.

Berbeda dengan teman-temanku pada umumnya. Mereka yang sering bertengkar adalah mereka yang sama-sama keras kepala. Padahal jika mereka mau membuka sedikit pikiran dan hati mereka, pasti permasalahan tak akan berujung pada pertengkaran. Dan jika meraka mau untuk introspeksi diri, pasti mereka akan menemukan jalan keluar tanpa harus bertengkar.

Maka dari itu, menyikapi hal yang sering sekali kusaksikan, dan sering sekali menjadi bahan curhatan beberapa teman. Aku ingin menjadikan ini sebagai bahan refleksi bagi diriku sendiri.

Mungkin, pikirku, salah satu cara untuk menjadi orang baik adalah dengan menghindari pertengkaran. Caranya dengan memaafkan dan introspeksi diri, bahwasanya diri ini pun masih banyak kurangnya, sehingga tak pantas untuk merasa benar dan menyalahkan orang lain.

Sesungguhnya, tidak ada yang 100% benar dan 100% salah dalam suatu perkara. Maka dari itu pentingnya introspeksi diri, bahwa setiap orang pasti memiliki sisi yang benar dan salah, namun kebanyakan dari kita hanya menunjukkan sisi benar kita, dan melihat sisi yang salah dari si lawan. Padahal, jika kita mau menunjukkan sisi yang salah dan melihat apa yang benar dari si lawan, pasti meminta maaf dan memaafkan akan jadi lebih mudah. Sayangnya, kebanyakan kulit manusia terbuat dari gengsi, hingga sulit untuk mau melakukan introspeksi diri. Astaghfirullah al adzim.

Semoga Allah memaafkan dosa yang telah kita perbuat. Dan semoga kita bisa menjadi sosok yang rendah hati dan mudah memaafkan orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s