Ramadhan #30: Idul Fitri

Tulisan ini merupakan tulisan 30/30 dari proyek menulis 30 Hari Mencari Berkah Ramadhan bersama Noryunita Rahmahdan Riski Agustin.

IMG_0643

Pagi itu ku berjalan menyusuri jalanan komplek. Ku lihat mentari yang masih belum sempurna rupanya mungkin hanya 3/4 nya saja. Dedaunan masih diselimuti oleh tetesan-tetesan embun. Aroma pagi itu sungguh nikmat untuk dihirup.

Perlahan-lahan mentari mulai menampakkan rupanya. Semakin tinggi.. semakin tinggi hingga cahaya berubah menjadi putih yang cukup menyilaukan. Bersamaan dengan itu pepohonan jua tampak segar kembali.

Terbitnya mentari mengingatkanku akan sebuah perjalanan. Bahwa akan selalu ada permulaan selepas perpisahan. Bahwa dalam permulaan terdapat jiwa-jiwa yang baru untuk memulainya. Dan dalam permulaan akan ada lembaran-lembaran baru yang siap untuk diisi.

Aku pun teringat pada hari esok yang insyaallah akan dirayakan sebagai hari raya idul fitri atau hari lebaran. Di hari idul fitri, seluruh umat muslim merayakan kemenangannya setelah berjuang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Seperti halnya mentari yang terbit, umat muslim pun setelah ini akan memulai lembaran-lembaran barunya dalam menjalankan ibadah sebagai umat muslim.

Mengingat idul fitri, aku teringat dengan idul fitri yang aku rayakan bersama kedua orang tua sewaktu kecil. Dulu ketika aku masih kecil, aku menyaksikan orang-orang yang sangat bahagia dalam menyambut hari idul fitri. Beberapa hari sebelumnya mereka sibuk memasak, membuat jajanan, begitupun juga dengan ibu ku. Pergi ke toko baju yang kondisinya jauh lebih ramai dari hari biasanya. Pada saat idul fitri pagi harinya orang-orang telah siap untuk pergi ke masjid, lalu setelahnya mereka saling mengunjungi rumah yang satu ke rumah yang lain. Rumah kami pun tak lepas di kunjungi oleh teman-teman ibu dan bapak. Dan kemudian ada sebagian dari mereka yang memberi ku uang. Aku pun ikut senang pada hari itu.

Namun sekarang aku sudah besar, sudah tidak lagi menerima uang dari para tetangga maupun keluarga :D. Meskipun begitu, aku cukup senang karena sedikit demi sedikit aku mulai memahami makna lebaran. Bahwa lebaran bukanlah tentang banyaknya beragam makanan yang tersedia, atau baju baru, pun jua uang yang diberi, namun idul fitri adalah suatu pencapaian dalam menjadi pribadi yang lebih baik setelah berjuang menjalankan ibadah dan jua memperbaiki diri selama bulan Ramadhan.

Sebagai penutup, saya mengucapkan minal aidin wal faidzin kepada seluruh pembaca sekalian. Mohon maaf jika selama ini adalah tulisan yang tidak berkenan dihati. Semoga setelah ini kita bisa terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Photo taken from here

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s