Mentari pagi itu…

Haleakala-Sunrise

06.00 dini hari, seperti biasa aku dan orang tua ku sudah bergegas menuju tempat usaha mereka yang letaknya di tengah kota. Dalam perjalanan itu, ku lihat langit malam perlahan-lahan mulai memudar, matahari pun belum menampakkan wajahnya. Langit kala itu, tak segelap malam hari, namun tak jua secerah pagi atau siang hari. Ku lihat jua rerumputan, padi-padian, dan pepohonan yang terhampar di pinggiran jalan. Mereka terlihat segar, berbalut embun-embun yang menghinggapinya. Ku resapi jua angin yang menusuk-nusuk tubuhku, dingin namun segar dan wangi dedaunan. Rumah ku memang terletak ‘agak’ kedalam dari perkotaan, dengan lingkungan yang masih asri dengan pepohonan-pepohonannya.

06.30. Ku lihat langit lebih cerah, dan matahari telah menampakkan wajahnya. “yaaah” desisku dalam hati, tak kusaksikan proses matahari keluar dari tempat persembunyiannya. Matahari, telah berada sekitar 30 derajat dari pandanganku di kendaraan saat bersepeda motor. Dulu, ketika hari pertama dinas di Rumah Sakit, aku berangkat menuju rumah sakit pukul 06.30, bukan karena takut terlambat mengikuti apel,  tapi karena itu adalah hari ke-2 aku membawa motor sendiri, jadi takut terjebak macet sedangkan aku berada dalam kondisi yang masih amatiran dalam berkendaraan, hehe.

07.00. Mentari semakin berada lebih tinggi dari jarak pandangku, membuatku sulit untuk menengoknya (karena aku yang masih amatiran bawa motor). Seiring berjalannya waktu, jam berangkat ku bergeser dari pukul 06.30 menjadi pukul 07.00 menuju rumah sakit, hehehe.

Kini, sudah hampir 2 minggu aku bertugas di Rumah Sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku selalu senang menatap mentari, aku selalu membandingkan tinggi mentari yang ku lihat hari ini, dengan hari kemaren. “Ahh, mataharinya lebih tinggi dari kemaren, benar saja aku lebih lambat sih” desis ku dalam hati. Aku pun mengagumi mentari yang sinarnya belum menyilaukan mata, begitu indah sekali.

Sembari fokus berkendara, aku sering membatin sambil menatap mentari pagi. “Ku temui lagi dirimu, masih sama seperti kemarin yang menyambutku dengan kehangatan” batin ku. Mentari itu mengingatkanku akan harapan-harapan yang harus selalu ku upayakan untuk dicapai, dan jua kewajiban-kewajiban yang harus segera aku selesaikan. Mentari itu pun mengingatkanku akan hari esok yang pasti datang dengan sinarnya yang menghangatkan. Tak pantas diri ini sedih berlarut-larut, karena apa yang terjadi pasti berakhir, begitupun dengan kesedihan yang pasti akan terganti dengan perasaan-perasaan di hari esok. Teringat apa kata temanku “dunia ini hanya sementara, tak usah kita mati-matian mencari sesuatu yang tidak dibawa mati”. Biarlah diri ini berjuang, memaksimalkan upaya untuk melaksanakan kewajiban. Biarlah diri ini berjuang, melaksanakan tugas dengan penuh keikhlasan, seperti petuah Ibuk “lakukanlah dengan ikhlas, biar dapat pahalanya dan jua ilmunya”.

Mentari, ku tunggu dirimu di hari esok dengan secercah harapan-harapan baru.

Iklan

2 responses to “Mentari pagi itu…

  1. Salam Mbak Hilda, Lama saya tak mampir kesini 🙂

    Oya, maaf belum bisa memenuhi apa yang sudah dijanjikan. Ternyata, rencana kepulangan harus tertunda beberapa minggu kedepan, ada beberapa hal yang perlu diselesaikan. Maaf ya… #IedMubarrak #HappyBlogging

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s