Berdamai dengan ‘kecewa’

Being-dissapointed-quote

Hidup adalah belajar. Belajar, tak hanya tentang memahami dan mengerti teori-teori yang diajarkan dibangku kuliah. Belajar, lebih luas daripada itu. Belajar memahami diri, belajar memahami problema hidup, belajar memahami apa-apa yang terjadi disekitar.

Akhir-akhir ini aku terbawa suasana, oleh kebaikan hati orang-orang pada ku. Aku belajar untuk memahami mereka, memahami kepribadiannya dan jua cara berpikirnya. Dan benar, ada banyak hal-hal baik yang kutemukan dalam diri mereka. Entah aku yang berlebihan dalam menilai mereka (karena berbuat baik padaku) atau memang itulah yang ada dalam diri mereka. Hal itu, membuat ku menaruh hati pada orang-orang seperti itu. Kagum, dengan beberapa hal positif pada mereka.

Namun, manusia memang tak ada yang sempurna. Mereka pun memiliki hal-hal yang tak sesuai dengan pemikiranku. Tak bisa dikatakan mereka salah, tapi setidaknya itu cukup mengingatkanku bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Dan aku pun berdamai dengan kekurangan yang ada pada mereka. Toh, kebaikan-kebaikan mereka sudah cukup untuk mengajarkanku menjadi lebih baik.

Dan aku pun belajar, bahwa menjadi orang yang baik tidaklah mudah. Terlepas itu kebaikan dalam menolong orang ataupun kebaikan berupa kebiasaan. Ada orang yang memiliki sebuah kebiasaan baik, namun tiba-tiba ia meninggalkan kebiasaan itu, ada.

Lalu bagaimana jika aku menyukai kebiasaan-kebiasaan baik yang ada pada mereka, namun tiba-tiba mereka meninggalkan kebiasaan baik itu? Sebagai contoh, kamu menyukai wanita X, dia berjilbab, pandai dan jua murah senyum, dan kamu pun menyukai kebaikan yang ada pada nya. Lalu suatu ketika kau menemukannya berada ditengah keramain, tanpa jilbab. Apa yang kau rasakan?

Kecewa.

Seperti itulah yang kurasakan, saat mendapati sosok yang ku kagumi tak lagi memiliki kebaikan yang aku sukai, kebaikan yang membuatku kagum.

Dari situ aku merenung, istiqamah dalam kebaikan itu memang susah. Namun bukan berarti tak bisa; pasti bisa diusahakan dan diperjuangkan. Lengah itu wajar, karena manusia memang sulit untuk fokus, namun pasti bisa untuk sadar dan kembali pada jalan yang benar. Kekecewaan yang kurasakan biarlah menjadi pengingat untuk ku dan jua untukmu agar berusaha istiqamah dalam kebaikan.

Sebisa mungkin, kebaikan itu jangan ditinggalkan, karna bisa jadi ada seseorang yang jatuh cinta padamu atas kebaikan yang kau lakukan 🙂

 

Iklan

2 responses to “Berdamai dengan ‘kecewa’

  1. Setiap orang pasti berproses, dan perubahan2 yang ada adalah keniscayaan. Sedikit berbeda cerita, saya punya kakak kelas yg dulu waktu kuliah suka mabuk, tapi dia pinter. Kemudian, pasca lulus dia lanjut ke US, eh taunya disana dia malah menemukan hidayah. Pulang2 malah ngustadz… jadi, perubahan itu pasti. Baik arah positif maupun negatif 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s