Di Sudut Kota Banjar

9fe16c2512dc52572cca5b3a9e769fe5

Aku menyusuri jajaran toko itu satu persatu. Langit sudah tak terang, padahal waktu baru menunjukkan pukul 3. Di luar rintik-rintik hujan berguguran. Aku berjalan dibawah naungan kanopi-kanopi bangunan.

Sudah sejak lama rasanya aku tak berada tempat ini. Dulunya hampir setiap hari berada di sini, menunggu supir angkot yang berhenti mencari penumpang. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain bermain ponsel namun sayang sehabis pulang kuliah seringnya ponsel sudah tak bernyawa. Dan aku pun hanya bisa melamun memandangi keramain. Ada yang tergopoh-gopoh membawa barang, ada tunawisma yang duduk diujung jalan, ada paman becak yang memandang ke awan, ada pula yang bernasib sama sepertiku; melamun, menunggu supir angkot berangkat.

Aku pun sering menyusuri tempat ini, dari pemberhentian angkot menuju kantor pos. Hampir tiap bulan aku pergi ke kantor pos, mengirim kartu pos untuk sahabat-sahabat pena. Namun sayang, sudah beberapa bulan aku tak berkirim-kiriman kartu pos lagi.

Aku selalu menikmati suasana disini. Pohon-pohon berjajar di pinggir jalanan. Etalase-etalase memajang berbagai barang dagangan. Di sudut jalan ada toko roti yang mana selalu mengingatkanku dengan kisah Madre-nya Dee Lestasi. Entahlah mengapa selalu terbayang dengan cerita itu.

Bangunan ditempat ini setidaknya sudah ada semenjak tahun 1992 ketika ibu baru saja merantau ke Banjar. Kata ibu “dari dulu sampai sekarang masih saja seperti ini bangunannya”. Bagiku bangunan ditempat ini membawaku dengan suasana tahun 90-an, meskipun aku tidak pernah menikmati suasana ditahun itu, hmm tidak mengingatnya lebih tepatnya.

Kadang aku berpikir, mengapa tidak dilakukan renovasi oleh pemilik-pemilik tokonya. Apakah toko mereka sunyi hingga tak mampu mengeluarkan biayanya. Tapi tidak juga, jika sunyi pasti sudah banyak toko yang tutup.

Namun lagi aku bersyukur, setidaknya aku bisa menikmati suasana di tempat ini. Menikmati kerindangan pohon-pohonnya, memandangi bangunan-bangunannya yang mana sudah mulai menguning, mengelupas dan bahkan ada yang miring, dan juga singgah ke toko roti saat perut minta diisi.

Mungkin, suasana yang seperti di tempat ini lah, yang akan aku cari nantinya jika berkunjung ke berbagai kota lain. Suatu perjalanan yang aku impikan bersama teman, menyusuri sudut-sudut kota, mencari ke harmonisan suasana. Mungkin nanti, jika telah kutemukan teman perjalanan.

Iklan

5 responses to “Di Sudut Kota Banjar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s