Aku sependapat bahwa “agama bukanlah sekedar ibadah ritual; banyaknya hafalan, hitamnya jidat, panjangnya jenggot, lebarnya kerudung. Tidak seeksplisit itu. Agama itu ada di dalam hati, melebur hingga menjadi satu kesatuan dalam diri manusia. Menjadi cara berpikir, cara berbicara, cara berperilaku, semunya termanifestasi menjadi perilaku keseharian” seperti dikutip dalam tulisannya masgun.

Maka dari itu kita tidak serta merta mampu menilai ketaqwaan seseorang hanya dari lahiriah semata, tidak ada yang bisa menilai ketaqwaan seseorang kecuali Allah SWT.

Lantas bagaimana kita bisa memilih pasangan jika ingin melihat dari agamanya?

Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku. Hingga aku mendapat jawaban dalam tulisannya masgun:

“Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, seluruh pemahaman itu akan melebur menjadi dirinya. Ingat bahwa Nabi Muhammad akhlaknya adalah Al Quran kan? Kita dan sesorang yang datang itu bukan Nabi, tapi kita bisa mencontohnya. Seseorang saat ini tidak lagi bisa dinilai dari luarannya saja. Lihatlah bagaimana cara dia berbicara, berperilaku, uji pemikiriannya dengan pertanyaan kritis dan masalah, uji kesabarannya dengan amarah. Kita boleh banget berdoa untuk memiliki pendamping yang memiliki paras yang baik, kaya, juga berketurunan, tidak ada yang salah. Yang perlu kita pegang adalah jadikan agama sebagai hakimnya.”

“Maksudnya agama sebagai hakim?”

“Kita tidak akan bisa menilai agama seseorang saja dan mengesampingkan yang lain. Hanya karena dia terlihat beragama; rajin shalat, jidat hitam, kerudung panjang, hafalan seabrek. Tapi bicaranya kasar, pemikirannya tertutup, bahkan perilakunya bertentangan dengan tampilan luarnya. Buat apa?”

“Carilah seseorang dengan karakter yang baik, baru kamu lihat agamanya. Kamu hanya perlu ridha dengan agamanya sebagaimana apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Artinya kamu cukup ridha bila dia hanya baru shalat wajib dan dhuha, belum banyak hafalannya, belum rajin puasa sunah, kerudungnya belum panjang atau bahkan mungkin belum mengenakan, dll. Karakter baik itu penting dan abadi berada dalam diri manusia. Karena karakter itu tidak dibentuk oleh pelajaran-pelajaran teori.”

“Karena pemahaman agama itu benar-benar menjadi agama ketika terwujudkan menjadi seluruh cara hidup seseorang. Selebihnya dapat dipelajari perlahan. Al Quran saja diturunkan dalam jangka bertahun-tahun, pelan-pelan tidak langsung sekaligus. Seseorang tidak akan menjadi sangat alim, sangat soleh atau solehah dalam hitungan pendek. Semua adalah proses dan itu proses bersama kalian nantinya. Untuk menjaga proses itu berjalan dengan baik, kamu membutuhkan seseorang dengan karakter yang baik”

Disini aku mendapati pemahaman yang sangat mengena dihati ku. Ternyata aku cukup benar menilai seseorang dari karakter dirinya. Dan aku selalu menghargai seseorang yang memiliki karakter yang baik terlepas dia itu seorang yang agamanya baik atau tidak.

Disini pun aku mendapati suatu pemahaman baru mengenai suatu hadis yang berbunyi “Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Bahwa kita tidak serta merta ingin menikahi seseorang yang baik agamanya, cukuplah kita ridha dengan agamanya. Jika kita cukup ridha dengan dia yang hanya mampu melakukan shalat 5 waktu dan dia memiliki karakter yang baik, maka itu sudah jadi bekal yang baik kedepannya. Karena dengan karakter yang baik setiap orang pasti bisa bertumbuh, pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik. Tinggal kita nya saja yang mendoakan pasangan kita agar terus menjadi lebih baik. Ke-ridha-an kita terhadap agama seseorang memang berbeda-beda. Jika memang ada sebagian yang tidak ridha dengan dia yang hanya mampu melakukan shalat 5 waktu meski dia memiliki karakter yang baik. Maka tidak bisa dipaksakan dan dilanjutkan. Karena kita menikahi seseorang bukan hanya di dunia melainkan di akhirat. Dan ke ridha an kita terhadap seseorang tergantung ketaqwaan pada masing-masing diri kita. Kita tidak bisa menyamakan, karena bisa saja si A akan ridha dengan agama si B, namun si C tidak bisa meridhai agama si B. Hal ini kembali pada ketaqwaan masing-masing dari kita.

Betapa karakter seseorang itu sangat penting (bagiku). Karena karakter terbentuk pada cara kita menyikapi segala proses yang telah kita lalui. Setiap orang pasti pernah menghadapi berbagai cobaan. Jika dia memiliki karakter yang baik artinya ia telah berhasil mengambil hikmah dan menjadikan pelajaran dalam setiap cobaan yang dilaluinya. Maka dari itu aku selalu percaya, mereka yang berkarakter baik pasti selalu bisa untuk bertumbuh, untuk menjadi sosok yang lebih baik terlepas agama dia baik atau tidak. Jika kita sudah cukup ridha dengan agamanya, maka lanjutkanlah. Selebihnya kita bisa selalu mendoakan dan mendukung pasangan untuk bertumbuh menjadi lebih baik bukan hanya urusan dunia namun akhirat. Insya Allah, mereka dengan karakter yang baik mampu untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s